awal dari mimpi besar

Pukul sembilan malam. Langit bergemuruh tiada henti. Setetes dua tetes kristal air mulai turun membasahi permukaan bumi. Suasana malam itu sungguh hening dan dingin, hanya terdengar suara rintikan hujan yang entah kapan berhentinya. Namun, suara notifikasi dari ponsel genggam membuyarkan keheningan malam itu.

WhatsApp – 1 pesan dari 1 chat
Bahasa Indonesia X PSPT
BKM2 Bu Yulia : Ujian Praktek Bahasa Indonesia …

Ternyata sebuah tugas. Tugas yang sepertinya… cukup mudah. Yaitu membuat karangan berdasarkan pengalaman pribadi bertemakan “Perjalanan Menggapai Asa” . Hmm… Kira-kira pengalaman apa yang akan kugunakan untuk tugas kali ini? Ah, sepertinya cerita itu bisa juga kugunakan. Baiklah, aku akan menggunakan cerita itu saja.

Aku mengingat-ingat kembali masa-masa sekolah dasar. Masa-masa yang sebetulnya menyenangkan sebab kala itu tugas dari guru tidak sebanyak saat SMP, konflik antar teman pun mudah terselesaikan. Masa-masa yang penuh keceriaan.

Aku memejamkan mataku, mengingat lebih dalam lagi ke sebeuah peristiwa yang menjadi awal dari mimpi besarku.

4 tahun yang lalu …

“Bagi anak-anak yang memiliki kemampuan dan berminat untuk mengikuti lomba-lomba yang sudah ibu sebutkan tadi, harap pergi ke ruang guru saat istirahat, demikian yang dapat Ibu sampaikan, Wassalamua’laikum Warohmatullahi Wa Barokatuh.” kepala sekolah menuruni panggung.

Beberapa murid menghela nafas lega. Akhirnya selesai juga. Batin mereka. Ketika yang lain sibuk bersyukur karena upacara sebentar lagi selesai, aku sangat antusias dengan apa yang sudah diucapkan oleh kepala sekolahku tadi. Aku pasti akan mengikuti lomba-lomba itu! Gumamku

“Heh, kamu pasti mau ikutan lombanya kan ? Kamu kan bisa buat cerita tuh.” Ujar salah seorang sahabatku.

“Yap! Tentu saja. Ingatkan aku untuk pergi ke ruang guru saat istirahat ya!” Pintaku kepada sahabatku.

“Oke deh bos …” Sahabatku mengacungi salah satu ibu jarinya.

Upacara berlanjut hingga akhirnya pun selesai. Para murid kembali ke kelasnya masing-masing termasuk aku.

Beberapa hari kemudian …

“Hei! Mau kemana?” tanyaku pada ketiga temanku yang sepertinya sedang tergesa-gesa.

“Mau latihan buat lomba, kamu ga ikut latihan?” Balas temanku yang mengikutin lomba menulis pantun alias Rizqa.

“Eh latihan? Kok aku baru tahu ada latihan.” Aku sedikit bingung.

“Iya, tadi Bu Kepsek ngasih infonya emang mendadak, ikut kita aja sini!” kali ini yang menjawab pertanyaanku adalah temanku yang mengikuti lomba sains alias Bunga.

“Oke.” Kemudian aku mengikuti mereka menuju tempat latihan.

Di Tempat Latihan

Di tempat latihan itu kami berlatih pada bidang masing-masing. Aku mengasah kemampuan menulisku, Rizqa membuat bermacam-macam pantun yang menarik, Bunga berlatih sains dengan serius, serta Avissa membaca puisi dengan lantang.

“Yak, sampai sini saja latihan kita kali ini, mari kita berdoa yang terbaik untuk lomba besok!” ucap sang pelatih.

Kami mengangkat kedua tangan dan berdoa dengan khidmat. Setelah sesi berdoa selesai, kami pulang ke rumah masing-masing.

Besok lomba sudah dimulai, aku harus giat berlatih sebelum lomba itu dimulai. Hanya tersisa satu malam saja untuk aku mengasah kemampuanku.

Aku mencari berbagai macam sumber-sumber cerpen dari internet. Membacanya satu persatu, memperhatikan gaya-gaya penulisannya, memahami konflik-konflik pada setiap cerita, serta menjadikan karya-karya tersebut sebagai inspirasi cerpenku nanti.

Sepanjang malam aku  terus memikirkan lomba besok. Kuisi kegiatan malam itu dengan berlatih hingga menemukan cerpen yang memiki konflik menarik, gaya Bahasa yang pas, serta penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang benar.

Setelah latihan yang cukup keras aku pun mengantuk. Aku meregangkan otot-otot tubuhku kemudian langsung merebahkan diri di atas Kasur yang empuk. Tak perlu waktu lama, mataku terpejam dan tidur.

Keesokan harinya …

Wahh, hari ini adalah hari yang sudah kunanti-nanti. Festival Lomba Seni Siswa Nasional dimulai hari ini. Meski hanya tingkat kecamatan tapi aku akan berjuang untuk mengharumkan nama sekolah.

Kami berempat menuju lokasi FLS2N menggunakan mobil pribadi milik kepala sekolah. Wah ternyata begini rasanya berada di dalam mobil milik kepala sekolah, sedikit menegangkan tetapi juga terselip rasa bangga.

“Ayo berdoa dulu sebelum berangkat …” Kepala sekolah menyuruh kami berempat untuk berdoa dulu. Supaya selamat saat di perjalanan serta supaya diberikan kemudahan pada saat mengikuti FLS2N. Kami berempat pun menundukkan kepala dan berdoa.

Selesai berdoa, kami berpamitan kepada siswa-siswi serta guru-guru sekolah kami. Mereka semua pasti juga berharap yang terbaik untuk kami. Kenangan yang terasa begitu mengharukan jika diingat-ingat kembali.

Tak lama kemudian, mobil milik kepala sekolah melaju cepat menuju lokasi FLS2N. Alhasil, kami berempat tiba di tujuan tepat waktu, malahan terlalu cepat. Tidak apa deh, aku jadi memiliki sedikit waktu untuk bersiap-siap sebelum lomba dimulai.

Aku berpisah dengan ketiga temanku yang lain. Kami sibuk mencari ruangan masing-masing. Setelah ketemu aku langsung memasuki ruangan tersebut. Mataku menatap sekitar, masih sepi. Baguslah, aku jadi bisa leluasa mencari tempat dudukku. Nomer ini … ah disitu. Aku menaruh tas di tempat tersebut. Kemudian mengeluarkan berbagai macam peralatan menulisku dari dalam tas. Persiapan selesai, tinggal menunggu sampai waktu lomba mulai berjalan.

Beberapa Menit Kemudian

Beberapa menit kemudian, dua orang dewasa memasuki ruangan lomba. Mereka membawa kertas penilaian dan alat tulis. Sepertinya mereka adalah juri lomba kategori menulis cerita. Dengan kehadiran mereka, aku jadi tahu bahwa lomba kategori menulis cerita akan segera dimulai. Yosh, ayo berjuang!

“Para peserta lomba sekalian, lomba menulis cerpen kali ini resmi dimulai, silahkan tulis cerpen terbaik kalian. Gunakan ejaan yang baik dan benar, tulis dengan rapih supaya mudah dibaca,” salah satu juri lomba mengarahkan petunjuk-petunjuk kepada kami.

Tanpa basa basi aku langsung menggoreskan kata demi kata di atas kertas polio bergaris yang disediakan oleh juri-juri lomba tadi. Terkadang aku berhenti sebentar untuk memikirkan kalimat yang pas. Setelah menemukannya aku kembali melanjutkan cerpen buatanku.

Hingga tak lama kemudian aku menyelesaikan cerpen terbaikku kala itu. Cerpen buatanku berkisah tentang seorang anak bernama Anya. Dia memiliki seorang teman yang meremehkan kebudayaan Indonesia. Anya sedih akan hal itu, perlahan-lahan ia mencoba untuk mengenalkan berbagai macam kebudayaan Indonesia kepada temannya. Lama kelamaan sang teman pun akhirnya tidak meremehkannya lagi. Kira-kira seperti itu cerpen buatanku.

Karena aku telah menyelesaikan cerpenku, ini waktunya untuk memeriksanya kembali. Barangkali aku menggunakan beberapa ejaan yang salah sehingga harus dibetulkan. Aku terus mengeceknya berulang-ulang kali hingga waktu habis.

“Baik anak-anak, waktu sudah habis, silahkan kumpulkan cerpen kalian.” perintah salah satu juri.

Aku bangkit dari kursi dudukku dan berjalan menuju meja juri untuk mengumpulkan cerpenku. Setelah mengumpulkam cerpen aku kembali ke tempat dudukku. Kemudian aku merapihkan barang-barangku dan segera meninggalkan ruangan.

“Heii!” Rizqa melambaikan tangannya ke arahku yang baru selesai. Ternyata dia sudah selesai duluan. Aku segera menghampirinya.

“Dimana Bunga dan Avissa?tanyaku

“Mungkin mereka berdua belum selesai,” jawab Rizqa. “Eh eh, itu ruangannya Bunga, ayo lihat.” sambungnya. Aku mengikuti Langkah Rizqa.

Kami pun akhirnya sampai di depan ruangan Bunga. Kami melihat Bunga sedang mempresentasikan hasil eksperimennya. Dia tidak terlihat canggung sama sekali, hebatnya. Aku dan Rizqa sampai terkagum-kagum dibuatnya.

“Wihh gilaa… keren banget.” pujiku. “Iya ! Bahkan  dia gak gemeteran loh, hebat.” sambung Rizqa. Kami masih memperhatikan presentasi Bunga.

“Terimakasih.” Bunga merapihkan alat eksperimennya kemudian kembali ke tempat duduknya. Suara gemuruh tepuk tangan terdengar menggema di seluruh ruangan, bahkan suaranya terdengar sampai luar ruangan.

Tak lama kemudian, Bunga keluar dari ruangannya. Itu berarti lomba sains juga telah selesai. Bunga pun menghampiri kami. Hanya tersisa Avissa. Belum sempat aku bertanya-tanya apakah lomba puisi sudah selesai atau belum, kami bertemu dengan Avissa di aula utama.

“Udah selesai semua ya? Aku yang terakhir dong.” ucap Avissa.

“Iya Vis.” jawabku singkat, “Jajan kuy sambal nunggu pengumuman pemenang.” ajak Rizqa. “Kuyla!”

Kami berempat membeli beberapa jajanan ringan untuk dimakan. Setelah jajan kami mencari tempat duduk untuk memakan jajanan-jajanan tersebut. Saat sedang mencari tempat duduk, kami bertemu dengan para guru pembimbing kami serta kepala sekolah. Mereka menyuruh kami untuk menghampiri mereka.

“Pengumumannya masih lama banget, kalian mau menunggu atau mau kembali ke sekolah?” tanya salah satu guru pembimbing.

“Kira-kira jam berapa ya bu?” tanya bunga.

“Mungkin habis dzuhur, sekarang kan masih jam sepuluh, berarti masih dua sampai tiga jam lagi.” Jawab guru pembimbing.

“Gimana? Mau balik aja?” tanya Bunga. “Iya balik aja, panas banget disini.” Balas Avissa.

“Balik ke sekolah aja Bu.” ucap bunga. Mendengar jawaban itu, guru pembimbing segera menelpon supir antar jemput dari sekolah.

“Ibu sama kepala sekolah akan menunggu pengumumannya, kalian pulang sama Pak supir ya.” jelas guru pembimbing. Kami mengangguk.

Beberapa menit kemudian, supir antar jemput sekolah sampai di tempat kami. Kami segera menaiki kendaraan tersebut. Setelahnya mobil antar jemput melesat menuju sekolah.

Sesampainya di sekolah, kami meneruskan pelajaran yang tersisa sampai pulang sekolah.

Keesokan harinya …

“Eh katanya kepala sekolah bakal mengumumkannya hari ini kan hasil lomba kemarin.” tanya Avissa. Aku mengangguk.

“Baik anak-anak… dimohon perhatiannya.” kepala sekolah mengetuk-ngetuk mic untuk mendapat perhatian.

“Nah itu pengumumannya.” Ucapku”.

“Hasil dari FLS2N kemarin sekolah kita mendapatkan dua buah piala.” ucap kepala sekolah. Hanya dua? Itu berarti… diantara kami berempat ada yang tidak mendapat piala. Jantungku mulai berdebar.

“Dan yang mendapatkan piala tersebut adalah… harapan satu untuk lomba sains!!” semua murid segera bertepuk tangan. Bunga segera maju ke depan untuk mengambil pialanya. Tersisa satu piala lagi, apakah itu pialaku… atau bukan?

“Piala kedua ini untuk …. Harapan dua lomba menulis cerpen!!” Ketika mendengarnya aku senang bukan main, bahkan mungkin jantungku hampir lompat dari tempatnya. Aku pun ikut maju menyusul Bunga untuk mengambil piala milikku.

Aku dan Bunga pun difoto untuk kenang-kenangan. Selesai berfoto-foto, kami disuruh mengembalikan piala tersebut ke tempat semulanya. Setelah itu kami berdua kembali menuju barisan.

Meski hanya mendapat harapan aku dan Bunga sama sekali tidak sedih. Meski tidak menang, Avissa dan Rizqa juga tidak sedih. Kami berempat pasti bisa mendapatkan yang lebih baik suatu saat nanti. Dengan terus berlatih, kemampuan kami pasti akan terus meningkat.

Nah kami berempat sudah berjuang untuk mengharumkan nama sekolah. Sekarang giliran kalian ya! Ayo berjuang demi meraih impian kalian! (talitha tsaqiifah)

 3,618 kali dilihat,  18 kali dilihat hari ini